Kumpulan Puisi Romantis Terbaru

kumpulan puisi romantis terbaru bikin baper


Kumpulan Puisi Romantis Terbaru -
Menulis merupakan suatu kesenangan tersendiri bagi sebagian seseorang. Bukan hanya sebagai hobi tapi juga sebagai penghilang bad mood. Biasanya jika seorang penulis sedang galau, maka dia akan lebih produktif untuk menggoreskan tinta dalam selembar kertas. Terutama tulisan yang jenisnya puisi.

Puisi adalah karya tulisan yang mampu mewakili perasaan seorang penyair melalui diksi-diksi yang indah. Berikut ini adalah kumpulan beberapa puisi romantis dari teman kami yaitu Fiena Syifa. Semoga dapat mewakili perasaan teman-teman semua.

Puisi Rindu Untuk Kekasih

Sedari tadi secangkir kopi menemanii sepi. Aroma yang sama menyapa kembali. Pikirku berkecambuk mengenai masa yang dulu ada. Nyata dulu, saat di sampingku, seseorang menggenggam kopi yang sama. Hanya saja kopinya hitam pekat.

CandAku beriringan dengan hujan saat itu. Percikan yang membawAku tenang, dan rasa selalu ingin bersama. Hmm.. Seperti filem romansa, bersamanya waktu itu begitu apa adanya. Sederhana, masih teramat sederhana.

Kini, segalanya rumit terbelenggu waktu. Aku tidak tau kapan itu berakhir. Dia pergi. Sangat jauh, teramat jauh. Tidak ada titipan salam, atau sekedar untuk pamit. Mungkin, saat ini Aku hanya sedang rindu. Aku merindukan begitu banyak hal tentang sosok itu.

Bagaimana carAku dulu memeluk amarahnya. Bagaimana jariku berada di dalam genggamanya. Saat dulu itu, saat semuanya begitu jenaka. Mempeributkan hal kecil, menyukai apa yang dia sukai, berjalan setapak tanpa jeda dan jarak.

Kau, apa kabar?. 

Kini ku tau, rindu kini mempunyai nama. Kamu. Kamu yang tidak akan pernah kembali. Kamu yang akan berbeda, tidak lagi sederhana seperti dulu. Kamu yang pada ahirnya  menjadi kenangan. Aku tidak akan pernah menyebutkanya kembali sebagai luka. Aku hanya sedang merindukanya. Walau hanya angan dalam benak. Setidaknya, Aku mengingat mata yang menatapku dulu. 

Setidaknya, Aku mengingat. Bahwa dulu kita pernah bercerita mengenai perasaan yang sama. Tidak ada hal lain setelah kepergianya. Dia sudah pergi. Dan mungkin sudah bahagia pilihanya. Aku hanya terus berusaha untuk bersahabat kembali dengan kala. 

Aku sadar. Merindukanya hanya dalam sajak hitam dia atas putih, tidak akan mengubah apapun. Kadang pula, percikan hujan saat sepi membuatku ingat. Kalaupun denting sebuah senar gitar kembali membawAku bernyanyi denganya. Apakah akan sama?. Rindu itu mendekap. Erat menggenggam. Tidak akan patuh saat dilarang. Tidak akan pergi saat di paksa.

Aku merindukanmu. Dan karena hal tak beralasan itu, semoga kau memaafkan rinduku.

Renungan kehidupan

Senja saat itu mengalir di benakku. Kian lama kalut akan rasa terbidik menAkuti. Sempoyongan seseorang berjalan ke arah mereka yang terduduk menyapu jalanan. Kala itu bagaikan semburat cahaya matahari bersinar paling benderang mendekap, yang jauh datang silih berganti menyapa. Pujian sahut menyahut terdengar. Bak bunga mekar dalam musim, begitu indah.

Mereka merayu seakan tak mau jauh. Mereka berlomba mendapat lambaian tanganku. Mereka mengantri meminta jabatan tanganku , kala ituu.. Saat air mata memenuhi hidup mereka dan kesakitan menjadi pilu untuk mereka keluhan yang ku peroleh dari mereka, ku bagikan dengan kasih paling terdalam.

Namun, saat ini, seakan daun berguguran runtuh satu persatu. Yang kuasa memberikan keadilan, sangat adil. Secercah sinar kemudian bungkam meredup perlahan, menusuk kedalam relung paling dalam. Angin mengoyak tubuhku yang kian gemetar.

Menghadapi kesanggupan yang di haruskan Tuhan. Air mata mulai berjaTuhan, batinku mengaduh meminta ampunan. Ada apa denganku?. Berapa banyakkah dosa yang ku perbuat?. Sehingga santun kau tunjukan banyak kepedulian dan pengajaran tentang sabar yang begitu panjang.

Redup sudah segala petang yang kemudian mati di tengah perjalananku. Ku semogakan banyak sekali doa dan pengharapan. Begitu panjang. Begitu sangat tandus. Jalan kering penuh luka itu, kini merayap di setiap tulang yang kian mengecil.

Aku mencoba kembali menyapa mereka dengan segala keprihatinan. Dengan pilu yang merobek amarah akan keimanan. Tangisan dan lambaian tangan yang seakan tak pernah mereka dengar. Gelap tawa yang menusuk nadi. Mereka berhamburan berlari tanpa ada yang perduli.

Aku berlari mengejar, meminta pertolongan. Mereka malah semakin jauhh berlari. Aku tenggelam dalam senja yang kian muram. Mereka menertawakan. Dengan kepedihan begitu mendalam kucoba terus mempelajari kesabaran.

Ku menengadah tak berhenti berdoa. Tuhan... Tidak akan ada batas dalam kesabaran. Aku yang kembali mencoba berteduh yang kembali bersembunyi dalam derai air mata sederas hujan dan segelap kabut Aku mencobaa merangkak. Merangkak mendekap kembali keteguhan Aku mencoba kembali berdiri tegap dengan kesabaran. Lagi dan lagi. Tuhan, segenap ku adukan mengenai mimpi yang tak pernah usai.

Ku sandarkan beribu pengharapan. Semoga keadilanmu di cukupkann dalam kemampuannku. Semoga segalanya usaii dengan kekuatan. Semoga segalAku adalah keterbaikan darimu.

Kotaku berubah

Pagiku telah berubah. Tak lagi terdengar candaan mbak jum penjual tempe bersepeda. Tak lagi terdengar gerobak sampah tua berwarna orange. Guyonan bocah kecil di gerbang kos kosan pun sudah sepi. Kebahagian yang sementara sunyi.

Kota yang tak pernah tidur sekarang seakan tidur enggan bersua. Bangun wahai kotAku. Tak ingatkah engkau akan syahdunya suara mesin beradu? 

Embun embun yang beradu cepat dengan terik. Roda-roda para pekerja yang siap menjilat aspal. Tak inginkah kau melihatnya lagi? KotAku. Bergegaslah bangun dan bangkit.

Apa kau tak rindu?  Kesepian? . Berjuta nyawa meminjakmu, menggantungkan asa di latarmu yg mulai lemah. Jika kau hanya diam enggan bicara. Bisikan saja padAku dengan suara tua mu. Aku tau kau lemah menahan pijakan para pendosa ini.

Saat tidak ada lagi kepedulian. Harus berapa banyak lagi jiwa yang dikorbankan. Kaum-kaum penadah pengaharap doa. Ujian ini berahir dengan mata air kebahagian bukan air mata kematian. Dengarkanlah mulut mulut berdoa. Sajak-sajak terbaca berisi berjuta pengharapan. Jiwa-jiwa putih hitam bahkan abu serentak seraya bersatu meminta ampun memohon ujian ini usai.

Mereka yang mengumpulkan pundi-pundi rezeki terpaksa berdiam diri menuntut pasrah dengan asa yang kian menyerah. Bangunlah kembali kotAku. Banyak air mata bersaksi tentang kepiluan yang tak kunjung mereda. Berjuta jiwa melamunkan masa depan tak bernyawa. Bangunlah.

Itulah tadi beberapa kumpulan puisi dari Fiena Syifa. Semoga bisa menginspirasi teman-teman semua. Puisi tersebut juga sudah di publikasikan di Channel Youtube Nrechel.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel