Kumpulan Puisi Cinta Sedih Terbaik Sepanjang Masa

Kumpulan Puisi Cinta Sedih Terbaik Sepanjang Masa


Kumpulan Puisi Cinta Sedih Terbaik Sepanjang Masa
- Berbicara mengenai perasaan tak akan ada habisnya. Apalagi masalah cinta?. Jika ditulis semalaman mungkin tidak akan selesai. Ada yang senang ada juga yang membuat sedih. Untuk itu kali ini kami akan membagikan puisi cinta sedih juga romantis untuk dibaca dan didengarkan. Puisi ini ditulis lagi oleh Fiena Syifa. Seorang yang bercita-cita ingin menjadi penulis dan memiliki bukunya sendiri. Kita doakan semoga impiannya itu tercapai menjadi seorang penulis terkenal.

Pemuda Dalam Sembilu

Lama kutak berpuisi. Sudah lupakah cara merangkai kata. Satu dua tiga atau empat minghu bahkan bulan dan tahun. Hilang inspirasikah?,  apa mungkin sudah tak berselera. Satu kata bisa bermakna indah Berangkai rangkai membentuk kalimat rasa.

Sekarang?  Susah dan entah.

Dulu semudah menekan ujung pena pada robekan kertas. Nyatanya jadi puisi yang indah. Kadang segudang tanya dalam benak, Jadi pandai berkarang pemuda ini?. 

Lembaran lembaran tercetak berisi luapan hati Menggambarkan primadona kala itu. Dengan menutup mata ia begitu nyata. Betapa bayangnya begitu lekat Namun sulit ku dapat.

Sepi ini sejatam pisau, Sepiku menghakimi dengan kacau. Merajuk hatiku menepikan rinduku Menanti siang bermentari. Menunggu malam berbintang, Berganti ganti waktu merindu.

Lewat angin ku kecupkan kening, Lewat embun ku pelukan rasa. Begitu jauhkah jarak?, Begitu lambatkah detik?. Masih saja aku diam. Di ambang bayang primadona kenangan.

Tuhan pahamilah aku, Pemuda Menitip rindu dalam sembilu.

Pulanglah cinta 

Jauh kini mengintai naluri akan cinta saat itu pergi. Di seluk hati paling kubenci di ujung sana, sebilah rasa tertinggal. Lama, tidak hanya satu dua minggu, rasa yang sengaja di tinggalkan, masih sama nyatanya.

Dulu sedekat angan, memaksa untuk ingat tanpa melepaskan. Memaksakan bebas tanpa membebaskan. Tidak pernah terasa bebas atau tidak pernah di bebaskan. Terbelenggu dalam satu rasa itu.

Waktu itu.

Januari kala itu.

Di dalam sana jejak rasa bersuara lantang, pulanglah. Ada harap yang selalu ku doakan. Menua bersama. Mengulang semua. Kepercayaan di ikat dalam seikat janji. Semerbak harum menggoyahkan sepi. Luka saat itu, pecah sudah seutuh hati. Namun kembali lagi.

Pulanglah, seperti dulu.

Bukankah sudah cukup? Berkelana jauh menepikan rindu. 

Pulang, tidakkah di rasa sudah waktunya berhenti?. Memutar arus menjedakan waktu, berganti merindu, teruss merindu.

Pulanglah....

Cinta,  seharusnya pulang. Bukankah begitu?. *end

Bukan inginku tak pulang. Ini soal beban yang mengikat badan. Seakan sudah tertancap dalam niat. Ku duakan hati yang terus merindu. Ku tinggalkan kebahagian kita dulu.

Dan..  Bukan soal aku tak ingin. Mengulang kisah yang kita mulai. Menulis kembali kenangan dari awal. Menyusun langkah kedepan bergandengan.

Nanti...  Hingga saat kurasa sudah. Mulai merdeka jiwa tanpa beban. Tanpa perlu kau pinta

Aku pasti pulang. Kembali dalam peluakan dekapan sandaran orang yang ku tinggalkan.

Cinta Dan Penghianatan

Jika besok aku mati? Adakah yang merasa kehilangan Selain keluargaku sendiri?. Apakah tingkatan kesedihan itu?. Apakah diam tanpa tau harus bagaimana?. Kalau bisa dituliskan menjadi puisi. Mungkin jadi puisi tersedih dalam penulisan kalimat kalimatku selama ini.

Demi Tuhan, aku tak tau bagaimana dan harus apa?.

Sulit luar dalam tanpa jalan keluar. Kesalahan memilih atau memilih yang salah. Kekejaman, penghianatan seakan hilang berganti sayang. Ini jalannya atau kebodohanku yang teramat dalam.

Satu sisi ku berjuang, Lain sisi perlahan meninggalkan.

Rabu 26 Februari.

Sakit ini semakin menjadi. Ketika ku dapati hati yang tulus dihianati.Pura-pura saja tak tau!. Sampai hati terketuk kepekaan. Ini semua tentang sebuah pilihan. Bertahan atau menyerah.

Atau cinta sesakit inikah?.

Dulu, awal tanggal ku mengenal Aku menuliskan sajak sajak indah yang kini memuakan. Satu persatu kisah menjadi sejarah. Kataku waktu itu Berawal dari tinta dan memilih kertas. Semua cerita di mulai dari jutaan ingkar dari janji sebelum kita. 

Saat itu aku berkata. Berani menuliskan alfabert menjadi kata. Kata-perkata menjadi kalimat, Kalimat per kalimat menjadi cerpen?.

Tidak! Ini bukan cerpen.

Ini adalah kisah yang di tuliskan dan bermaksud seterusnya. Muak sekali kini kubaca lembar demi lembar tulisan itu. Oh kini benar, segalanya membusuk. 

Benarkan sesakit inikah cinta?. Kehilangan, harapan, kesepian. Kini sudah tidak ada arti. Bertatap denganmu lagi sudah tak menjadi inginku, Apalagi berkawan?.

Seakan nada jatuh dalam iramanya. Fals! Para penyanyi menyebutnya.

Apakah benar cinta itu menyakitkan?. Kini ku buktikan. Aku tidak lagi terpuruk dan seakan mau mati. Kini aku berdiri tegap melanjutkan. Hanya saja, percaya. Tidak akan lagi ada.

Perasaan Tak Bisa Dipaksakan

Tulisan pena menggambarkan rasa. Jauh sudah ku baca detik akan kita. Terapung karena sembilu tak berkesudahan.Di hadapkan pilihan. Memilih nyata di antara dua luka. Bagaimana denganmu?. Karena mengerti tidak untuk kita saja. Sudahkah diam?. Berkaca pada angin. Memalingkan nyata karena terpisah sudah menjadi pilihan.

Rindu yg menumpuk menjadi dusta. Menyusun kebohongan seperti pazzle. Demi tak terdengar jerit kesakitan menahan perih. Bukan tak ada pilihan. Namun tak ada jalan secepat pikiran. Berkecamuk pikiran pasrah atau perjuang. Angin saja sudah tak mau jadi kaca. Apalagi air?.

Lalu, semudah itukah menyerah?. Menyamarkan cinta pada kepasrahan. Tidak begitu!. Bagai terketuk mimpi Membayangkan kita tak akan jadi usai. Sekeras batu karang membungkam masa. Ku lupakan pada ahinya. Ujung pena menekan kertas Tak lagi terbentuk. Hanya amarah menyisakan duka.

Pikiran tak sejalan. Dua perasaan tak bisa di paksakan. Jalan bersebrangan tak semudah pertemuan pertigaan. Satu saja dulu kasih, Ku habiskan masa kelam ini. Agar tak ku bawa di akhir kebersamaan. Tuhan tak sekejam itu. Menyiksaku membabi buta. Jalan masih panjang. Aku masih harus berjuang.

Ku coba bertoreh sepi kini. Kulalui jalanku sendiri. Menggantungkan asa di dalam kenangan yang kini terlewatkan. Akankah baik baik saja?. Kini berada di dalam ruang. Bebas namun sesak terkutuk rindu.

Seakan hidup akan berahir, Kerindukan membunuh perlahan. Berputus asa karna asa, Berteguh kuatlah karna sakit. Jadikan ini pondasi hidup. Kelak tuhan berkata cukup. Membalikan keadaan menjadi idaman.

Aku tau kini memang ahir. Setelah berkelana Menyusuri jalan seraya bergandengan. Erat memeluk kekar tubuh yang kian runtuh. Genggaman ini tak lagi bertuan. Sungguh sudah jauh. Bukan lagi jarak, lebih dari itu.

Lelah

Sore ini baru saja lelah menyergap. Kulangkahkan gontai kaki memijak Seakan mereka tau. Debu jalanan menikam pilu. Kadang tidak lupa akan keluh kesah, Menepiskan lelah, Menunduk pasrah.

Aku.... Lelah.

Teriring asa yang bertubi-tubi menikam. Sengaja, ku sombongkan diriku. Aku bisa. Dan aku ini wanita yang kuat. Namun tak jarang aku terkekeh sendiri. Berkaca pada genangan di jalanan yang habis di rundung hujan sore itu.

Aku... menyedihkan.

Terkutuk otak sedari tadi. Terlalu sering diriku menepiskan syukur. Terkalahkan ego karena ingin yang tak pernah tergapai. Kembali kurasa sudah. Jangan terlalu sering mengeluh.

Ah memang aku ini, pendosa yang tak mampu mencapai finish agar mau bertaubat. Terlebih saat tumpukan-tumpukan penat menyelinap. Kurasa sudah, ingin sekali kusudahi nafas ini. Kadang tidak tau, tekanan apa yang memaksa.

Seakan tidak mau mengenal. Aku, Terlalu sedih dan amat menyedihkan. Benci kepada diri sendiri dan membenci orang yang mengusik ketenanganku. 

Aku ini kenapa? 

Memang, begitu banyak drama hingga begitu banyak bab-bab pelajaran hidup yang tak akan pernah habis ku pelajari. Kuat, tabah, adalah yang terbaik.

Hingga detik kali ini, yang harus di lakukan adalah betahan. Sekejam apapun dunia yang kau rasa asing. Sepedih apapun kenyataan hingga kau merasa tersingkirkan.

Kau hanya perlu tau, teruslah bertahan.

Itulah tadi beberapa kumpulan puisi cinta bikin galau yang sudah kami rangkum. Semoga bisa menginspirasi teman-teman semua.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel