Nap9NWB6LWJ9MWBdNaV5Max9MSMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Metode Talaqqi Syafahi Dalam Proses Idaroh Pondok Pesantrek Kempek Cirebon



Al-Quran adalah kalamullah yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat yang paling agung yang di jaga ke aslianya langsung oleh Allah SWT hingga hari kiamat.

Membaca Al-Qur'an adalah suatu ibadah, akan tetapi dalam membaca Al-Qur'an agar tidak terjadi kesalahan dalam bacaan nya kita harus mempunyai guru. Dalam pengajaran Al-Qur'an ada yang namanya Talaqqi Syafahi.

Talaqqi berasal dari kalimah laqia yang berarti berjumpa. Yang dimaksudkan berjumpa adalah bertemu antara murid dengan guru.

Sedangkan Musyafahah di ambil dari kata syafahun yang berarti bibir. Secara bahasa ialah bercakap-cakap antara dua orang yang di maksud disini adalah membaca Al-Qur'an dari mulut ke mulut

Jadi, Talaqqi Musyafahah adalah pertemuan antara guru dan murid di dalam suatu majlis pada satu masa tertentu dimana murid menerima pengajaran dengan melihat gerakan bibir guru dan mengikuti bacaan guru.

Dalam Proses Idaroh Al-Qur'an di Pondok Pesantren Kempek, tak lepas dari metode Talaqqi Syafahi.

Seperti dalam proses Tamrinan (latihan) para khotimin di ajarkan satu persatu cara pembaca'an khilaf (perbeda'an) yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur'an antara Qiro'at Imam Hafs dan Qiro'at Imam Syu'bah oleh pembimbing Tamrinan ( Pengurus ).

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan baca'an yang fatal,
Karena melalui pengajaran face to face antara guru dan murid dengan mencontohkan bacaan terlebih oleh pembimbing tamrinan,

Ada maqolah ulama yang berbunyi :

من تعلم العلم وليس له شيخ فشيخه شيطان

"Barang siapa yang belajaar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah setan"

Apalagi dalam membaca Al-Qur'an, kalau tidak melihat langsung pengucapannya dan penjelasannya dari guru, maka akan menghasilkan bacaan yang salah. Oleh sebab itu wajib hukumnya belajar Al-Qur'an dengan adanya Guru.


Contoh kecil seperti pengucapan huruf "dal", memang dalam kitab-kitab tajwid sudah ada keterangan bahwa makhrojnya dal adalah di ujung lidah yang menempel dengan langit-langit mulut. Namun jika tanpa adanya praktek langsung yang di ajarkan oleh guru maka tidak akan benar. Seperti yang terjadi ketika Idaroh berlangsung, para Khotimin Al-Qur'an selalu berkendala dalam pengucapan mahkrojnya dal.

Kita ambil contoh lain bacaan seperti imalah, isymam, tafhim, tarqiq, tashil, waslul jami', qoth'ul jami', atau yang lainnya tanpa adanya pengajaran langsung dari guru, mungkin kita akan kebingungan tentang cara membacanya.

Oleh karena itu dalam tradisi di Pondok Pesanren Kempek ada yang nama nya Cocogan. Cocogan adalah suatu sistematis untuk mengecek dan membenarkan bacaan yang disimak langsung oleh senior sebelum mengaji langsung di hadapan kyai.

Kesimpulanya, dalam proses Tamrinul Idaroh di Pondok Pesantren Kempek tak terlepas dari metode Talaqqi Syafahi, antara peserta Idaroh dan Pembimbing secara langsung bertemu dan memperhatikan baca'an dari pembimbing sebelum membaca ayat-ayat yang terdapat khilaf (perbedaan) antara dua Imam Qiroat.

Semoga bermanfaat
Share This Article :
avatar

Alhamdulillah nambah ilmu jangan lupa bw jg ya ke www.tempatpopuler.com

Monday, 22 January, 2018
3940678444603187744