Kebun Karet Dan Sawit - Saksi Bisu Etnosentrime di Sumatera Selatan

 

Awalnya saya belum mengerti apa itu yang dimaksud dengan etnosentrisme, namun saat saya buka arti etnosentrime dalam modul dan juga saya coba buka juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 

Etnosentrisme ialah sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. 

Melihat dari arti dari etnosentrime ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sikap ini bertolak belakang dari sifat toleransi terhadap suku, budaya dan agama.  

Kenapa demikian?. Sikap ini memiliki banyak celah jika dibiarkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Seperti contoh kehidupan dalam lingkungan saya pribadi yaitu kalangan Petani Karet yang berlokasi di Muara Enim, Sumatera Selatan.  

Di daerah saya bukan hanya karet yang menjadi sumber penghasilan sehari-hari. Ada juga yang menjadikan income utamanya ialah Sawit, ada juga yang berniaga di Kalangan (sebutan Pasar Tradisional di daerah kami). 

Yang menjadi permasalahan dalam konteks etnosentrisme ini dalam kehidupan bertani dan berniaga dalam lingkungan kami ini sebagai petani karet dan berniaga di pasar ialah kuatnya perbandingan suku atau ras. 

Sebelum melanjutkan apa yang menjadi permasalahan besar dalam konteks etnosentrime saya menjelaskan terlebih dahulu bagaimana sistem profit sharing yang banyak dilakukan dalam keseharian petani karet. 

Banyaknya maysarakat tidak sebanding dengan banyaknya kebun karet yang tersedia memaksa dan mengharuskan orang yang tidak memiliki kebun karet untuk bekerja menyadap getah karet kepada orang yang memiliki kebun karet. 

Yang menjadi bibit permasalahannya disini, banyak orang yang sudah tidak percaya lagi dengan suku atau ras turunan asli Sumatera. 

Kenapa?. 

Kebun karet jika dikelola oleh orang-orang suku asli kebanyakan mereka ini tidak bisa dipercaya. Apabila hasilnya katakanlah 10 yang diserahkan kepada pemilik kebun hanya 8 atau bahkan separuhnya. 

Hal ini bukan sekali atau dua kali terjadi, tapi berkali-kali merata. Hingga timbullan etnosentrisme dalam kehidupan lingkungan Petani Karet. 

Padahal kan banyak juga orang asli, ras, suku asli Sumatera yang memiliki sifat dan sikap baik, amanah, bertutur kata lembut, gotong royong dan menghormati sesama. 

Suku atau ras Jawa yang hidup di Sumatera pun sama, ada yang bisa dipercaya ada juga yang sulit untuk menjaga kepercayaan masyarakat di daerah kami bahwa Suku Jawa ini baik. 

Semuanya sama, kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Mau apapun Ras, Suku, Agamanya jika tidak memiliki pribadi yang baik tentu saja tidak akan baik. 

Hingga etnosentrisme ini berlangsung hingga saat ini sampai orang suku asli pedalamannya sendiri jika bertemu dengan orang asli mereka belum bisa mempercayakannya. 

Hal ini pernah saya buktikan sendiri ketika berinteraksi langsung dengan orang asli Sumatera bukan blasteran Jawa – Sumatera atau orang Jawa yang tinggal di Sumatera. 

Orang Sumateranya sendiri jika mereka ingin mencari karyawan mereka selalu mencari selain orang Sumatera. Sampai segitunya?. 

Seperti yang tertulis dalam Tugas Ahir Mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Lely. Beliau menyabutkan banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya tingkat kejahatan di Sumatera terutama Sumatera Utara. 

Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan akses untuk membaca dan menelaah tugas akhir tersebut. 

Namun saya bisa memberikan opini saya pribadi salah satu faktor yang mempengaruhi adalah masih belum meratanya orang yang bisa dan mampu mengenyam pendidikan yang layak. 

Padahal Pemerintah Indonesia terutama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sudah memberikan bayak ruang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan adanya program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. 

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi ialah susahnya mendapatkan informasi karena belum meratanya layanan atau jasa telekomunikasi di daerah kami. 

Hal ini pula yang menyebabkan susahnya orang-orang seperti kami untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak karena untuk sinyal operator GSM saja masih belum merata. 

Jujur, pertama kali saya pulang dari perantauan dan menetap di desa saya merasa depresi dan stress karena keadaan desa yang susah sinyal ditambah lagi akses ke layanan publik seperti cafe, minimarket atau bahkan tempat hiburan jauh. 

Tapi saya mencoba berfikir positif dan mencoba membangun jaringan telekomunikasi dengan alat seadanya hingga mampu digunakan untuk diri sendiri dan bisa bermanfaat bagi orang-orang di desa saya yang kesulkitan mendapatkan sinyal. 

Tapi faktor ke tiga ini yang paling mempengaruhi kenapa etnosentrime ini berkembang pesat disana ialah berawal dari satu akar permasalah yang sulit sekali dilepaskan. 

Apakah itu? Gambling. 

Pembahasan mengenai Gambling ini mungkin sudah banyak sekali yang membahasnya namun karena dilihat tulisan saya ini sudah terlalu panjang hanya untuk menjawab satu permasalah dan mengakar kemana-mana, kemungkinan akan saya bahas pada tugas atau tulisan selanjutnya. 

M.Lutfi Abdul Aziz, Mahasiswa UT Palembang, Prodi S1 Ilmu Komunikasi. 

Referensi : 

https://kbbi.web.id/etnosentrisme 

https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/22992 

Content Creator