Puisi Fiersa Besari - Ketika Kukira Aku Istimewa

Ketika Kukira Aku Istimewa - Puisi yang ditulis oleh Bung Fiersa ini adem banget untuk dibaca dan dingerkan ketika santai. Bukan hanya sajak-sajaknya yang indah, tentunya memiliki makna yang dalam juga. Aku suka banget sama puisi ini. Apa lagi ada versi musikalisai puisinya, sebagai pengantar tidur.

Puisi ini terdapat dalam buku Bung Fiersa Besari yang berjudul Garis Waktu. Buku ini terbit pada tahun 2016 ini sangat menggugah sekali bagi jiwa-jiwa penikmat senja. Untuk itu, aku tulis sajaknya ini. 

Puisi Fiersa Besari - Ketika Kukira Aku Istimewa
Photo by Warren Wong on Unsplash

Kukira hanya untukku dirimu. Ternyata kau terbagi ke segala penjuru, sporadis memberi angin surga pada kawanan pemangsa.

Masih kurangkah telinga ini mendengar keluh kesahmu? Belum cukupkah waktuku untuk membalas segala aduanmu? Jika aku yang kau rasa menenangkanmu, lantas mengapa ia yang menenangkanmu? Siapa gerangan dirinya? Dari mana datangnya? Mengapa aku tidak melihatnya datang? Tampaknya, terlalu rapi kau sembunyikan musuhku didalam selimutmu (siapapun yang berusaha merenggutmu akan kuanggap musuhku). Jadi selama ini, saat aku berharap, mungkin saja kau dan dirinya sedang menikmati malam minggu bersama. Saat aku terbuai, mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan. Saat aku hendak membantu masalah-masalahmu, sudah ada dirinya yang menjadi kesatria untukmu. Bravo. Luar biasa.

Dan kalah sebelum berperang adalah perasaan yang sangat menyebalkan.

Hari ini mau tak mau harus kembali lagi kupakai topeng senyumku. Kusimpan lagi perasaanku rapat-rapat.

"Selamat," kataku.

Padahal, bara membakar hati. Sembari hangus, aku terus mengutuk diri sendiri. Wahai kau yang berjubah api, puaskah kau menjadikanku arang? Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita. Namun, ini bukan salahmu... Sungguh. Memang aku saja yang tidak pernah cukup berani  untuk menjabarkan apa yang sepatutnya kau ketahui. "Selamat," ulangku dengan penuh kemunafikkan. Padahal, diam-diam kudoakan ia mati saja.

Kau tersenyum, matamu berbinar. Entah lugu atau pura-pura tak mengerti mengenai apa yang kupendam. Dan aku yang bodoh ini terkunci rapat-rapat didalam labirinmu; tak tahu jalan keluar.

Secara terselubung, kususupi hari-harimu dengan pengharapan. Secercah harapan mampu hadir bahkan di ruang tergelap. Tenang saja, kau takkan kehilangan segala perhatianku. Aku hanya menyembunyikannya dengan lebih rapi lagi.

Ya.... Aku mengalah. Aku mengalah karena aku percaya, kalau kau memang untukku. Sejauh apapun kakimu membawamu lari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku.

Teman-teman juga bisa melihat Musikalisasi Puisi Fiersa Besari - Ketika Kukira Aku Istimewa ini di channel youtube Nrechel. Semoga menginspirasi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel